MINUM dari kran- Asep Wawan Setia, Supervisor ATB di IPA Mukakuning
Batam meminum air dari kran yang merupakan air bersih yang telah diolah di instalasi pengolahan air tersebut.
Mungkin hanya sebagian orang saja
yang mengetahui bahwa hasil pengolahan air bersih yang dilakukan oleh ATB bisa
langsung diminum. Hal ini pun diamini oleh Asep Wawan Setia, Supervisor IPA
Mukakuning Batam saat ditemui Tim A.
Baginya, Air hasil pengolahan di
Instalasi Pengolahan Air (IPA) Mukakuning maupun IPA lainnya bisa langsung
dikonsumsi tanpa harus di masak terlebih dahulu. Mengingat setelah sampai di
resevoir, air telah mengalami beberapa kalai pengolahan secara kimia, biologi
dan fisika. Sehingga setelah sampai pada penampungan di WTP, Air bisa
dikonsumsi.
Namun, Asep menegaskan kembali
bahwa air tersebut hanya bisa dikonsumsi secara langsung ketika berada di IPA
saja. Dan dirinya tidak bisa menjamin bisa dikonsumsi secara langsung ketika di
rumah pelanggan.
“Setelah pengolahan saja yang bisa
saya jamin. Jika di rumah pelanggan saya sarankan untuk dimasak terlebih
dahulu,” terangnya.
Kenapa demikian? Mengingat dalam
proses pendistribusian air dari IPA ke rumah pelanggan, air bersih akan
melewati jaringan pipa yang cukup panjang dan beliku-liku. Sehingga kadar
kualitas air (dalam hal ini untuk dikonsumsi) akan berkurang.
“Begitu keluar dari proses
pengolahan air, kadar layak diminum 100 persen. Namun akan berkurang jika
sampai di rumah pelanggan dengan berbagai faktor. Mulai dari kondisi pipa
hingga ada atau tidaknya kebocoran,” terangnya.
Sebagaimana diketahui, mengelola
air bersih di Kota Batam ternyata tidaklah mudah. Selain kondisi alamnya yang
berbukit-bukit dan kualitas air (sumurnya) kurang layak untuk dikonsumsi karena
ph-nya yang sangat tinggi, ternyata Batam juga memiliki permasalahan yang
sangat pelik yakni minimnya sumber air baku di Kota berbentu kalajengking ini.
Kondisi tersebutlah yang menjadi
tantangan besar saat Otorita Batam (saat ini BP Batam) mempercayakan
pengelolaan air bersih di mainland Pulau Batam kepada PT Adhya Tirta Batam
(ATB) melalui perjanjian konsesi 25 tahun.
Hal itupun tak disia-sikan oleh
ATB. Dan ditunjukkan dengan keberhasilan ATB sebagai Perusahaan Air Minum
Terbaik se-Indonesia.
Bahkan, saat ini ATB tlah menjelma
menjadi sebuah benchmark atau tolak ukur bagi seluruh Perusahaan Daerah Air
Minum (PDAM) di Indonesia bahkan dari luar negeri sebagai Smart Water Company.
Banyak hal dari kemampuan ATB yang
dapat dijadikan tolak ukur bagi PDAM di Indonesia. Diantaranya sesuai dengan
Standard Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (PERPAMSI) yang
memiliki empat faktor yang selalu dievaluasi dari performa sebuah PDAM.
Yakni Jangkauan Pelayanan, Non Revenue
Water (Kebocoran), Efisiensi Rasio Karyawan, dan Kinerja keuangan.
Dari sisi jangkauan pelayanan,
rata rata kondisi jangkauan pelayanan PDAM di Indonesia adalah 60 persen.
Artinya dari sebuah wilayah yang harus dilayani PDAM, rata rata PDAM di
Indonesia hanya mampu melayani 60 persen masyarakat saja. Sementara ATB telah
mampu melayani 99,7 persen dari kebutuhan seluruh masyarakat Batam.
Selain itu, Non revenue water
(NRW) atau Kebocoran yang berhasil ditekan oleh ATB hingga menjadikannya
sebagai perusahan nomor satu yang berhasil menekan angka kebocoran. Dimana rata
rata kebocoran PDAM di Indonesia adalah berkisar 30-35 persen.
Bahkan Ibukota Jakarta sekalipun
rata rata kebocorannya berkisar 40 persen. Sedangkan ATB mampu menekannya
hingga 15,17 persen pada tahun 2016, atau setengah dari rata rata kebocoran
nasional.
Di sektor Efisiensi Rasio
Karyawan, ATB juga telah mencapai keberhasilan. Dimana rata-rata PDAM di
Indonesia saat ini rasio karyawannya adalah 6. Artinya 6 karyawan melayani 1000
pelanggan.
Sedangkan di ATB, rasio karyawan
saat ini adalah 2,24 atau lebih kurang sepertiga dari rata rata PDAM. Rasio
karyawan ini juga paling rendah di Indonesia.
Terakhir adalah kinerja keuangan.
Selaku pihak swasta pemegang konsesi, ATB dituntut harus mampu mebiayai biaya
operasional dan kebutuhan pengembangannya secara mandiri.
Dengan kata lain, tidak membebani
APBD maupun APBN. Namun ATB memberi keuntungan berupa investasi yang akan
dikembalikan kepada Pemerintah pada akhir konsesi, dan kontribusi serta pajak
yang telah dibayarkan setiap tahunnya. Dengan total investasi, pajak, dan
kontribusi lain yang telah dibayarkan oleh ATB sejak 1995 sampai dengan 2017
mencapai Rp 1,701trilliun.
Sebagai perusahaan pelayanan
publik, ATB juga tetap mengacu kepada standard yang telah ditetapkan oleh
pemerintah dalam sisi Kualitas, Kuantitas, Kontinuitas serta Keterjangkauan
(K4).
Dalam sisi Kualitas, ATB
memproduksi air yang mengacu pada standararisasi yang ditetapkan oleh World
Health Organization (WHO) sebagaimana tercantum dalam perjanjian konsesi, namun
juga mengacu kepada Permenkes.
Untuk Kuantitas, saat ini rata
rata konsumsi air masyarakat Batam sudah mencapai 199 liter/orang perhari.
Angka ini sebetulnya bahkan sudah terbilang sangat boros, dimana standar ideal
konsumsi air masyarakat perkotaan adalah 150 liter/orang /hari.
Sedangkan angka kebutuhan minimum
berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 71 Tahun
2016 tentang Perhitungan dan penetapan Tarif Air Minum, dimana pada poin ke 10
berbunyi standar kebutuhan pokok air minum adalah kebutuhan air sebanyak 10
meter kubik/kepala keluarga setiap bulan atau 60 liter/orang/hari.
Sementara pada bagian kontinuitas,
ATB terus berusaha meminimalisir jumlah pelanggan yang belum mendapatkan
layanan secara maksimal. Sebagaimana diketahui, ada sekitar 1.000 lebih
pelanggan yang belum menikmati 24 jam. Angka itu sekitar 0,3 persen dari total
265.000 pelanggan ATB.
Mereka adalah yang lokasinya
sangat tinggi atau berada pada pipa terujung. Sehingga presurenya kurang pada
saat jam normal. Tetapi itu sudah jauh menurun dibanding 3 tahun lalu, yaitu
sekitar 5000 pelanggan.
Seluruh kerja keras ATB ini tak
lupa juga diukur melalui survey kepuasan pelanggan secara berkala oleh ATB.
Lembaga survey yang digunakan juga dipilih lembaga survey yang independen dan
kredibel yaitu Nielsen.
Hasilnya secara overall kepuasan
masyarakat terhadap pelayanan ATB terus meningkat dari waktu ke waktu. Bahkan
pada survey terakhir yang dilakukan pada tahun 2014, terlihat kepuasan pelanggan ATB sudah di
angka 73, yang telah melebihi standar kepuasan masyarakat secara nasional untuk
perusahaan pelayanan publik yaitu 70.
ATB juga dikenal sebagai Smart
Water Company di Indonesia. Hal ini dikarenakan dalam operasionalnya ATB
menggunakan berbagai alat dan sistem tekhnologi Informasi yang canggih yang
belum tentu dipakai oleh PDAM lainnya di Indonesia.
Sebut saja beberapa alat yang
digunakan ATB selama ini, seperti Streaming Current
Monitor pada tahap
produksi, Remote Terminal Unit (RTU) pada tahap distribusi, Mobile Meter
Reading yang memungkinkan pencatat meter ATB melakukan pembacaan meter yang
lebih akurat, real time disertai foto dan koordinat, serta AIRS atau ATB
Integrated Information Sistem berbasis ERP, yang merupakan sebuah aplikasi
manajemen bisnis yang memudahkan pengelolaan bisnis secara terintegrasi.
Sedangkan Supervisory Control And
Data Acquisition (SCADA) yang dikembangkan ATB menjadi fenomenal di PDAM di
Indonesia, karena baru pertama ini penggunaan SCADA terintegrasi untuk,
produksi, distribusi, dan sekaligus NRW (kebocoran).
Sedangkan di PDAM yang berukuran
besar umumnya seperti Surabaya, Jakarta, Malang umumnya menerapkan SCADA hanya
untuk salah satu unit saja.
SCADA juga digunakan di beberapa
perusahaan derah air minum (PDAM) di Indonesia, namun SCADA yang ada di ATB
merupakan satu satu yang terbaik di Indonesia, karena terintegrasi antara
produksi, distribusi dan NRW.(*)