Selasa, 19 September 2017

Air Hasil Proses Pengolahan Bisa Langsung Diminum. Tapi Hanya di WTP Saja




MINUM dari kran- Asep Wawan Setia, Supervisor ATB di IPA Mukakuning Batam meminum air dari kran yang merupakan air bersih yang telah diolah di instalasi pengolahan air tersebut.




Mungkin hanya sebagian orang saja yang mengetahui bahwa hasil pengolahan air bersih yang dilakukan oleh ATB bisa langsung diminum. Hal ini pun diamini oleh Asep Wawan Setia, Supervisor IPA Mukakuning Batam saat ditemui Tim A.

Baginya, Air hasil pengolahan di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Mukakuning maupun IPA lainnya bisa langsung dikonsumsi tanpa harus di masak terlebih dahulu. Mengingat setelah sampai di resevoir, air telah mengalami beberapa kalai pengolahan secara kimia, biologi dan fisika. Sehingga setelah sampai pada penampungan di WTP, Air bisa dikonsumsi.

Namun, Asep menegaskan kembali bahwa air tersebut hanya bisa dikonsumsi secara langsung ketika berada di IPA saja. Dan dirinya tidak bisa menjamin bisa dikonsumsi secara langsung ketika di rumah pelanggan.

“Setelah pengolahan saja yang bisa saya jamin. Jika di rumah pelanggan saya sarankan untuk dimasak terlebih dahulu,” terangnya.

Kenapa demikian? Mengingat dalam proses pendistribusian air dari IPA ke rumah pelanggan, air bersih akan melewati jaringan pipa yang cukup panjang dan beliku-liku. Sehingga kadar kualitas air (dalam hal ini untuk dikonsumsi) akan berkurang.

“Begitu keluar dari proses pengolahan air, kadar layak diminum 100 persen. Namun akan berkurang jika sampai di rumah pelanggan dengan berbagai faktor. Mulai dari kondisi pipa hingga ada atau tidaknya kebocoran,” terangnya.



Sebagaimana diketahui, mengelola air bersih di Kota Batam ternyata tidaklah mudah. Selain kondisi alamnya yang berbukit-bukit dan kualitas air (sumurnya) kurang layak untuk dikonsumsi karena ph-nya yang sangat tinggi, ternyata Batam juga memiliki permasalahan yang sangat pelik yakni minimnya sumber air baku di Kota berbentu kalajengking ini.

Kondisi tersebutlah yang menjadi tantangan besar saat Otorita Batam (saat ini BP Batam) mempercayakan pengelolaan air bersih di mainland Pulau Batam kepada PT Adhya Tirta Batam (ATB) melalui perjanjian konsesi 25 tahun.

Hal itupun tak disia-sikan oleh ATB. Dan ditunjukkan dengan keberhasilan ATB sebagai Perusahaan Air Minum Terbaik se-Indonesia.



Bahkan, saat ini ATB tlah menjelma menjadi sebuah benchmark atau tolak ukur bagi seluruh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Indonesia bahkan dari luar negeri sebagai Smart Water Company.

Banyak hal dari kemampuan ATB yang dapat dijadikan tolak ukur bagi PDAM di Indonesia. Diantaranya sesuai dengan Standard Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (PERPAMSI) yang memiliki empat faktor yang selalu dievaluasi dari performa sebuah PDAM. Yakni  Jangkauan Pelayanan, Non Revenue Water (Kebocoran), Efisiensi Rasio Karyawan, dan Kinerja keuangan.

Dari sisi jangkauan pelayanan, rata rata kondisi jangkauan pelayanan PDAM di Indonesia adalah 60 persen. Artinya dari sebuah wilayah yang harus dilayani PDAM, rata rata PDAM di Indonesia hanya mampu melayani 60 persen masyarakat saja. Sementara ATB telah mampu melayani 99,7 persen dari kebutuhan seluruh masyarakat Batam.

Selain itu, Non revenue water (NRW) atau Kebocoran yang berhasil ditekan oleh ATB hingga menjadikannya sebagai perusahan nomor satu yang berhasil menekan angka kebocoran. Dimana rata rata kebocoran PDAM di Indonesia adalah berkisar 30-35 persen.

Bahkan Ibukota Jakarta sekalipun rata rata kebocorannya berkisar 40 persen. Sedangkan ATB mampu menekannya hingga 15,17 persen pada tahun 2016, atau setengah dari rata rata kebocoran nasional.



Di sektor Efisiensi Rasio Karyawan, ATB juga telah mencapai keberhasilan. Dimana rata-rata PDAM di Indonesia saat ini rasio karyawannya adalah 6. Artinya 6 karyawan melayani 1000 pelanggan.

Sedangkan di ATB, rasio karyawan saat ini adalah 2,24 atau lebih kurang sepertiga dari rata rata PDAM. Rasio karyawan ini juga paling rendah di Indonesia.

Terakhir adalah kinerja keuangan. Selaku pihak swasta pemegang konsesi, ATB dituntut harus mampu mebiayai biaya operasional dan kebutuhan pengembangannya secara mandiri.

Dengan kata lain, tidak membebani APBD maupun APBN. Namun ATB memberi keuntungan berupa investasi yang akan dikembalikan kepada Pemerintah pada akhir konsesi, dan kontribusi serta pajak yang telah dibayarkan setiap tahunnya. Dengan total investasi, pajak, dan kontribusi lain yang telah dibayarkan oleh ATB sejak 1995 sampai dengan 2017 mencapai Rp 1,701trilliun.

Sebagai perusahaan pelayanan publik, ATB juga tetap mengacu kepada standard yang telah ditetapkan oleh pemerintah dalam sisi Kualitas, Kuantitas, Kontinuitas serta Keterjangkauan (K4).

Dalam sisi Kualitas, ATB memproduksi air yang mengacu pada standararisasi yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) sebagaimana tercantum dalam perjanjian konsesi, namun juga mengacu kepada Permenkes.

Untuk Kuantitas, saat ini rata rata konsumsi air masyarakat Batam sudah mencapai 199 liter/orang perhari. Angka ini sebetulnya bahkan sudah terbilang sangat boros, dimana standar ideal konsumsi air masyarakat perkotaan adalah 150 liter/orang /hari.

Sedangkan angka kebutuhan minimum berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2016 tentang Perhitungan dan penetapan Tarif Air Minum, dimana pada poin ke 10 berbunyi standar kebutuhan pokok air minum adalah kebutuhan air sebanyak 10 meter kubik/kepala keluarga setiap bulan atau 60 liter/orang/hari.



Sementara pada bagian kontinuitas, ATB terus berusaha meminimalisir jumlah pelanggan yang belum mendapatkan layanan secara maksimal. Sebagaimana diketahui, ada sekitar 1.000 lebih pelanggan yang belum menikmati 24 jam. Angka itu sekitar 0,3 persen dari total 265.000 pelanggan ATB.

Mereka adalah yang lokasinya sangat tinggi atau berada pada pipa terujung. Sehingga presurenya kurang pada saat jam normal. Tetapi itu sudah jauh menurun dibanding 3 tahun lalu, yaitu sekitar 5000 pelanggan.

Seluruh kerja keras ATB ini tak lupa juga diukur melalui survey kepuasan pelanggan secara berkala oleh ATB. Lembaga survey yang digunakan juga dipilih lembaga survey yang independen dan kredibel yaitu Nielsen.

Hasilnya secara overall kepuasan masyarakat terhadap pelayanan ATB terus meningkat dari waktu ke waktu. Bahkan pada survey terakhir yang dilakukan pada tahun 2014,  terlihat kepuasan pelanggan ATB sudah di angka 73, yang telah melebihi standar kepuasan masyarakat secara nasional untuk perusahaan pelayanan publik yaitu 70.

ATB juga dikenal sebagai Smart Water Company di Indonesia. Hal ini dikarenakan dalam operasionalnya ATB menggunakan berbagai alat dan sistem tekhnologi Informasi yang canggih yang belum tentu dipakai oleh PDAM lainnya di Indonesia.

Sebut saja beberapa alat yang digunakan ATB selama ini, seperti Streaming Current 
Monitor pada tahap produksi, Remote Terminal Unit (RTU) pada tahap distribusi, Mobile Meter Reading yang memungkinkan pencatat meter ATB melakukan pembacaan meter yang lebih akurat, real time disertai foto dan koordinat, serta AIRS atau ATB Integrated Information Sistem berbasis ERP, yang merupakan sebuah aplikasi manajemen bisnis yang memudahkan pengelolaan bisnis secara terintegrasi.

Sedangkan Supervisory Control And Data Acquisition (SCADA) yang dikembangkan ATB menjadi fenomenal di PDAM di Indonesia, karena baru pertama ini penggunaan SCADA terintegrasi untuk, produksi, distribusi, dan sekaligus NRW (kebocoran).

Sedangkan di PDAM yang berukuran besar umumnya seperti Surabaya, Jakarta, Malang umumnya menerapkan SCADA hanya untuk salah satu unit saja.

SCADA juga digunakan di beberapa perusahaan derah air minum (PDAM) di Indonesia, namun SCADA yang ada di ATB merupakan satu satu yang terbaik di Indonesia, karena terintegrasi antara produksi, distribusi dan NRW.(*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sensasi 'Tak Mau Cek-Out' Landa Tamu Hotel Best Western Premier Panbil Batam Hotel

Akhir pekan menjadi momen yang tepat untuk 'mengasingkan' diri dari keramaian kota. Banyak di antaranya memilih untuk refreshi...