Hampir semua orang pasti pernah
menggunakan air bersih yang diolah oleh
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di daerahnya masing-masing.
Namun pernahkan Anda tahu
bagaimana proses pengolahan air baku menjadi air bersih yang dilakukan mereka?
Oleh karena itu, tim A di Pelatihan Menulis Feature ATB 2017 mencoba menjabarkannya
secara ringkas, padat dan jelas untuk Anda semuanya.
Tim A yang terdiri dari Iman,
Ikhwan, Novi dan Nunik secara langsung mengunjungi Instalasi Pengolahan Air
(IPA) Mukakuning Batam yang dikelola oleh PT. Adhya Tirta Batam (ATB). Selain
berkeliling dan melihat secara langsung proses pengolahan air, kami dipandu
dengan penuh antusias oleh Asep Wawan Setia, Supervisor IPA Mukakuning Batam,
Selasa (19/7) pagi.
Melalui diskusi ringannya,
terungkap bahwa proses memproduksi air baku menjadi air bersih yang dilakukan
oleh ATB, tidaklah mudah dan setidaknya membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam
hingga menjadi air bersih yang layak untuk dikonsumsi.
Padahal ada lima proses penting
dalam pengolahan air yang harus dilalui agar air tersebut bisa menjadi layak
untuk dikonsumsi oleh pelanggan yang sesuai dengan World Health Organization
(WHO) serta Permenkes RI. Yaitu koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi,
dan desinfeksi.
Tahap awal proses pengolahan air
adalah, ATB mengambil air dari waduk melalui pipa Intake berukuran panjang 17
meter. Pada bangunan Intake ini biasanya terdapat bar screen yang berfungsi untuk
menyaring benda-benda agar tidak ikut masuk ke jaringan pipa yang dialirkan Aerator.
Disini, Air akan disedot pada
bagian dasar Aerator yang kemudian disemprotkan ke udara secara berulang-ulang
dan guna mengurangi bau seperti bau lumpur, lumut, menambah oksigen pada air
sekaligus dan mengoksidasi kandungan di air.
“Pada proses ini, kita juga
membubuhkan Klorin dan beberapa zat kimia lainnya. Umumnya ada dua jenis
kotoran yang terkandung dalam air, yakni partikel diskrit yang secara alami
dapat mengendap dengan sendirinya dalam waktu yang cukup singkat, dan partikel
koloid yang sangat kecil dan ringan,”kata Asep menjelaskan.
Setelah dibubuhi zat kimia,
partikel koloid maupun diskrit akan membentuk gumpalan. Gumpalan yang umumnya
berwarna coklat atau hijau tersebut akan dipisahkan dari air dan proses ini
biasa disebut dengan Flokulasi
Sementara, air yang sudah terpisah
dari kotoran diskrit maupun koloid akan melewati tahap berikutnya, yakni tahap
pengendapan/penjernihan atau Sedimentasi.
Setelah melalui tahap pengendapan/penjernihan,
air baku tersebut akan melewati tahap penyaringan. Hal tersebut dilakukan agar
air benar-benar bersih, tidak ada lagi kotoran-kotoran kecil dan kasat mata
yang lolos terdistribusikan kepada pelanggan.
Setelah melewati tahap
penyaringan, air baku yang sudah diolah menjadi air bersih tersebut akan
disimpan di tanki penyimpanan sementara (ground tank) setelah sebelumnya
kembali dibubuhi klorin untuk memastikan kuman-kuman yang ada di dalam air
mati.
Air yang sudah siap konsumsi
tersebut kemudian di simpan di tanki reservoir, setelah itu baru
didistribusikan kepada pelanggan, dalam hal ini pelanggan ATB yang tersebar di
Pulau Batam.
Untuk memastikan air yang diolah
sesuai dengan standar WHO dan Permenkes RI, petugas ATB secara berkala
(biasanya setiap dua jam) akan mengambil sampel air di IPA untuk dicek, baik
kadar Ph hingga kekeruhan air.
Dan sebagai perusahaan air bersih
swasta terbesar di Indonesia, ATB memiliki standarisasi hasil produksi air bersih
yang berkualitas.
Sebelum didistribusikan, air yang
diproduksi ATB dipastikan sesuai dengan standar Peraturan Menteri Kesehatan
(Permenkes RI) Nomor 492 tahun 2010.
Dan terlebih dahulu dilakukan
pengujian di Laboratorium, guna memastikan tingkat kesesuaian dengan
persyaratan Permenkes. Pengujian tersebut, di lakukan pada semua parameter yang
sudah di tentukan. Diantaranya parameter Fisika, Kimia dan Mikrobiologi.
Parameter yang dilakukan pengujian
ini, didasarkan pada hal-hal yang berhubungan langsung pada kesehatan. Seperti
pada pengujian Parameter Mikrobiologi yang melakukan pengecekan pada tiga
parameter. Yakni pengujian Total Bakteri Koliform, Fecal Koliform dan E. Coli.
Pada pengujian Fisika, tim ATB melakukan
pengujian untuk 6 parameter. Yakni pengujian total zat padat terlarut (TDS),
kekeruhan, suhu, warna, bau dan rasa. Dari pengujian tersebut, dua diantaranya
dilakukan pengujian di Instalasi Pengolahan Air (IPA) dan di Jaringan
Distribusi (di luar) dan parameter lainnya diuji di Laboratorium (di dalam).
Sementara pada pengujian parameter Kimiawi,
ATB melakukan pengujian untuk 20 parameter. Diantaranya pengujian kandungan
Aluminium pada air, Besi, kesadahan, Khlorida, Mangan, pH, Seng, Sulfat,
Tembaga dan Amonia.
Selain proses pengujian kualitas
air baku dan air yang sudah di produksi ATB juga menggunakan klorin sesuai
standar yang aman untuk memastikan air produksi ATB dalam kondisi yang bebas
mikroorganisme. Klorin berfungsi membunuh bakteri,jamur dan mikroorganisme lainnya.
Dengan proses produksi air yang
dilakukan ATB yang berdasarkan standar dan aturan yang telah di tetapkan,
tentunya air bersih yang di kirim ke pelanggan tetap terjaga kualitasnya.
Terpenting lagi air bersih tersebut sudah bebas dari bakteri e.coli maupun mikro organisme lainnya.
Tabel Parameter Wajib Pengujian
Air ATB(*)
|
Jenis Parameter
|
Nama Pengujian
|
Satuan
|
Kadar Maksimum yang Diperbolehkan
|
|
Mikrobiologi
|
1. Fecal Coliform
2. E. Coli
3. Total bakteri
Koliform
|
Jumlah per 100 mL sampel
|
0
0
|
|
Fisika
|
1. Warna
2. Kekeruhan
3. Suhu
4. Bau dan Rasa
|
TCU
NTU
Derajat Celcius
|
15
5
Suhu udara (+) (-) 3
Tidak Berbau dan Tidak Berasa
|
|
Kimia
|
1. Aluminium
2. Besi
3. Kesadahan
4. Khlorida
5. Mangan
6. pH
7. Seng
8. Sulfat
9. Tembaga
10. Amonia
|
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
|
0.2
0.3
500
250
0.4
6.5 – 8.5
3
250
2
1.5
|


Tidak ada komentar:
Posting Komentar